Header Ads

Seo Services

Pengalaman Ashfal Maula Dua Kali Konser di Hongkong

Senyum ramah Gus Apang, sapaan akrabnya mengembang saat mengetahui kedatangan Radar Kudus beberapa waktu lalu. Di rumah orang tuanya di Dukuh Jumutan Desa Demangan Kecamatan Kota, Kabupaten Kudus tersebut ia tinggal bersama orang tua dan saudara-saudaranya..

Ia pun tak segan bercerita panjang lebar mengenai pengalaman saat melantunkan salawat di hadapan ribuan TKI yang ada di Hongkong. Ya, setelah sukses meluncurkan album solo religi tahun 2005 yang bertitel Mutiara 04.30 Jogja, ia semakin dikenal sebagai penyanyi religi dan juga dikenal sebagai pelatun salawat, karena sebelumnya telah beberapa kali meluncurkan album salawat dengan beberapa grup.

Pria kelahiran Kudus, 9 September 1981 tersebut telah dua kali konser di Hongkong. Kali pertama ke Hongkong pada 2008 sekitar Syawal even Halal Bil Halal dan yang ke dua pada 2009 di musim liburan sekolah sekitar pertengahan Juni.

Dua kali berkunjung ke Hongkong tersebut karena memang mendapat undangan dari organisasi TKI yang bekerja di Hongkong. Kali pertama di undang Jamiyah Raudlatul Quran bertampat di Masjid Jami' Tsim Sha Tsui, di kota Kowloon, Hong Kong. “Waktu itu saya datang bersama teman karib saya, Sholeh Ilham,” kata dia.

Dia dan juga Sholeh Ilham datang ke acara tersebut untuk melantunkan salawat-salawat dan juga melantunkan ayat-ayat suci Alquran. ”Kita melantunkan salawat nabi saat itu,” katanya. Dalam kesempatan tersebut ada tiga orang Indonesia yang diundang, yakni dirinya, Sholeh Ilham dan satu lagi muballig dari Jawa Barat.

Sementara pada 2009, ia datang bersama muballig Jawa Tengah, Kholilullah Al Hafidz. Pada 2009 ini organisasi yang mengundang kelompok Al Fitroh Hongkong. Bertempat di Ho Tung Scondary School, Kota Causeway Bay, Hongkong. Di sana Gus Apang melantunkan lagu-lagu religi yang juga salawat.

Selama di Hongkong sekitar satu minggu tersebut, ia mengaku lebih mengenal dan bisa merasakan berbagai persoalan TKI yang ada di Hongkong. Secara umum, ia menilai bekerja di Hongkong memiliki waktu serta kesempatan untuk berorganiasi dan berkumpul bersama teman-teman tenaga kerja lain.

Setiap pekan, para TKI ini mendapatkan libur satu hari pada Minggu, dan ini biasanya digunakan untuk berorganisasi. Di samping itu ia menilai meski mereka bekerja sebagai pembantu rumah tangga, tetapi kerja mereka dipatok dengan waktu. “Jadi kalau malam hari di luar jam kerjanya maka ia bisa istirahat,” terangnya.

Karena memiliki waktu libur yang cukup, apalagi di sana juga ada cuti dan tanggal merah juga libur, secara umum para pekerja Indonesia banyak memanfaatkan waktu mereka untuk berkumpul dengan sesama TKI yang lain. “Di perkumpulan seperti inilah mereka rutin mengadakan kegiatan di setiap bulan,” katanya.

Mengenai bentuk kegiatan itu terserah dengan hobi dan kesukaan mereka. “Ada yang glamour dengan mendatangkam grup-grup band, tetapi ada juga kelompok yang senang berdzikir dan bersalawatan. Maka biasanya kelompok ini sering mendatangkan mubalig dari Indonesia,” terangnya.

Uniknya seluruh pembiayaan kegiatan keagamaan tersebut ditanggung bersama oleh seluruh anggota kelompok. “Kalau di Indonesia pengajian umumnya gratis, kalau di sana itu setiap pengunjung membayar tiket masuk,” kata dia.

Dan uniknya, kata Gus Apang, di sana peminatnya banyak sekali. Biasanya, dalam acara pengajian tersebut selain mendengarkan ceramah serta bersalawat bersama juga menggelar tanya jawab. “Biasanya mereka akan curhat tentang segala hal, khususnya tentang keadaan dan perasaan mereka bekerja di Hongkong,” lanjutnya.

Pengalaman lain selama konser di Hongkong yang tak pernah terlupakan oleh Gus Apang tatkala dicurigai sebagai teroris dan sempat berada berjam-jam di markas kepolisian Hongkong. Saat itu ia datang bersama muballig Kholilulah, yakni saat kunjungan yang kedua tahun 2009. Dan Kebetulan di pesawat yang sama ada juga dua orang Indonesia yang berjenggot yang juga menuju Hongkong.

Karena kepolisian setempat curiga dengan orang berjenggot, akhirnya dua orang berjenggot serta Gus Apang dan Khalilullah diperiksa di markas polisi. “Karena bahasa Inggris pas-pasan jadi ya hanya bisa menjawab sebisa mungkin. Aku menjelaskan pada mereka kedatangan ini untuk mengisi sebuah acara organisasi,” bebernya.

Akhirnya, setelah diperiksa beberapa jam di markas kepolisian tersebut, Gus Apang dan Khalilullah diperbolehkan masuk ke Hongkong. Sedangkan dua orang lain berjenggot tersebut tidak bisa masuk ke Hongkong dan dideportasi ke Indonesia.

Sumber: google.co.id

2 comments:

Powered by Blogger.